Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sepotong Senja yang Kutinggalkan

Aku tak seberuntung Alina,
Yang mendapatkan sepotong senja dari Sukab,
Orang yang sangat mencintainya,
Walau Alina tak pernah menaruh rasa padanya,
Ia keratkan senja yang keemasan itu, lalu ia masukkan dalam amplop
Melalui pak pos senja itu sampai pada Alina, walaupun sepuluh tahun.
Tetap saja Alina adalah perempuan yang beruntung, dan aku tak seberuntung ia.
Aku menyaksikan senja, bukan di tepi pantai seperti Alina
Aku menikmati senja diantara padi yang baru di semai,
Diantara persawahan di persimpangan jalan,
Senja keemasan itu yang aku sesali hingga saat ini
Hingga aku berangan-angan ingin berjalan mundur,
Hingga aku sampai pada senja itu,
Lalu akan kulakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Sukab,
Kukerat senja itu kumasukkan dalam toples kaca
Ya..toples kaca, karena aku tak akan mengirimnya pada siapa-siapa, jadi aku tak membutuhkan amplop seperti Sukab.
Dari toples kaca mungkin aku akan bisa melihat,
sepotong senja dan kisah hari itu,
Sebuah perjumpaan yang aku tak ingin terikat dengan waktu,
Aku hanya menginginkan senja yang abadi,
Yang tak akan berubah menjadi malam yang gelap gulita,
Biarlah itu menjadi senja yang panjang,
Hingga aku bosan memandangimu
Ahhh..senja itu, senja yang aku sesalkan
Kenapa aku tak mengeratnya dan memasukkannya dalam toples kaca,
Lengkap dengan udara khas pedesaan hijaunya padi
Dan ia yang membuatku jatuh cinta
Senja itu, adalah senja yang aku sesali hingga kini,
Senja yang membuatku jatuh cinta pada warna putih,

Selain jingga dalam abadinya.

Mengeja Senja

kawan, aku melihat semburat jingga
diantara garis abu-abu yang samar-samar dan menjulang tinggi,
diantara putih yang sedikit pekat,
dan diantara abu-abu yang terpencar tak beraturan.
kawan, aku melihat mereka bertiga,
bersatu tapi tak menyatu
terpisah tapi tak sendiri
antara garis abu-abu yang samar dan menjulang,
putih yang sedikit pekat,
dan abu-abu yang tak beraturan
kawan, aku benar-benar melihat mereka bertiga,
mereka bertiga membelakangi semburat jingga yang elegan,
kawan, disini ku coba membaca garis hadirnya,
dan aku tak mampu
kawan, disini aku mencoba mengeja garis hadirnya lagi,
namun aku terbata.

Kata Mereka

Kata mereka aku pemilih,
Kataku aku menunggu dipilih
Kata mereka aku gengsi,
Kataku aku hanya menjaga harga diri
Kata mereka aku sempurna,
Kataku aku tak ada apa-apanya dibanding dia
kata mereka rindu itu menggebu,
kataku rindu itu membelenggu
kata mereka rasa cinta itu anugrah,
kataku itu tak lebih dari musibah
kata mereka senja itu hanya semburat merah,
kataku senja sangatlah megah
kata mereka kopi itu pahit,
kataku kopi itu komplit
langit..masih bisakah kutawar garis hidupku?


(K)opi Senja

Kutitipkan rinduku pada semburat senja,
Juga pada secangkir kopasus yang mungkin kau rindukan (jua)
Jika rindu adalah kabar dari Tuhan,
Maka kopasus adalah surat balasan dariku
Masih kutaruh harapan pada ketidak mungkinan,
Atau bahkan pada kemungkinan yang belum mendapatkan waktunya
Jika merindumu adalah sebuah anugerah maka biarlah senja tetap begini
Aku mengharapkan cangkir itu,
Pada hari ke dua awal tahun lalu,
Ah...ternyata aku tak mengharapkan cangkir itu,,
Aku mengharapkan kopasus dalam cangkir itu
Yang berada di dalam cangkir tepat di depanku,
Itu juga di hari ke dua awal tahun lalu,
Ah..ternyata aku tak menginginkan kopasus dalam cangkir itu
Aku hanya menginginkan kesatuan yang ada di depanku
Sebuah cangkir, kopasus di dalamnya dan kita yang berada diantaranya
di hari ke dua awal tahun lalu,,
Maka biarlah berlalu,,

Dan kita bisa mengenangnya melalui kopi dan senja

Terjerat Asa



Aku ingin kencang berlari,
Ibarat  peluru yang keluar dari mulut senapan,
Aku ingin tegap menjejak,
Diantara bedil yang siap menembak,
Rintihanku,,asaku,,
Tak ujung diperjuangkan
Dimana para penguasa???
Yang kutemukan hanya  para penghianat
Tuanku,,bebaskan kami untuk berlari
Tuanku,,biarkan kami tegak menjejak
Menapaki bumi pertiwi yang kian gontai
Biarkan kami,,,,
Mengoyak dinding beku yang tak terjamah