Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Mengeja dari Sisi Positif

Aku memulainya pada bulan terakhir, memasuki minggu ke-3 tepatnya pada tanggal 19 Desember 2015. Kupercayakan seluruh rasa ini pada seorang laki-laki yang aku telah mengenalnya selama kurang lebih satu tahun. Malam itu sebelum tanggal 19 dibawah gerimis kita saling mengungkapkan rasa, ya...rasa yang telah lama kita pendam, mungkin sekitar 6 bulan kita mampu memendamnya dan hanya menjadi penikmat dari kejauhan.
Entah mengapa ia yang telah lama pergi tiba-tiba muncul dan mengakui semuanya dibawah rintik hujan dan temaram lampu alun-alun yang menambah suasana romantis. Ia ungkapkan semuanya, namun malam ini ia tak mampu membangun komitmen denganku. Ia hanya sebatas mengutarakan rasa yang ia pendam padaku. Aku, yang menurutnya satu-satunya perempuan diantara perempuan-perempuan itu yang bisa membuatnya menaruh rasa. Ehtah karena apa ia pun tak tahu, kalau suka ya suka aja, begitu tuturnya. Akupun mengungkapkan rasa yang tak jauhb beda dengan miliknya.
Rasa kita memang sama, tapi kita juga sadar bahwa kita bagaikan utara dan selatan, timur dan barat yang tak mungkin bersatu. Iya...latar belakng ideologi kita berbeda. Ia menganut ideologi agak fundamen sedangkan aku lebih ke moderat liberal. Tapi apapun itu, kita lupakan perbedaan-perbedaan itu, kita mencoba untuk mendudukkan perbedaan itu dan mendialektikannya.
Usai berbicara panjang lebar, aku menemaninya makan malam itu. Kita masih berbincang tentang apa saja, hingga waktu sudah terlalu larut dan kita pulang. Esoknya aku bertemu dengannya, sikapnya agak berbeda hari ini seakan ada rona bahagia diantara kita pasca pertemuan semalam. Ya..pertemuan yang aku tak bisa menyebutnya “kencan” karena kita bukan pacar. Tapi apapun itu, kita jadi berbeda hari ini, ada romantis-romantisnya gitu.
Hingga tiba pada sebuah senja diantara gerimis, hal yang menurutnya romantis ini ia gunakan untuk mengutarakan rasanya padaku, ia memintaku pada senja diantara gerimis hari itu. Kita sejenak melupakan segala perbedaan dan segela ketidak mungkinan. Yang ada hari ini adalah cinta dan bahagia. Kita jalani saja kisah ini, bagaimana endingnya biar Sang pemilik rasa ini yang menentukannya, karna kita tak pernah tahu nasib seseorang.
Hari ini, diantara senja dan gerimis aku ingat apa yang dituturkan oleh Gie pemuda revolusioner yang juga punya sisi romantis. Ia mengatakan dalam puisinya “kita berbeda dalam semua kecuali dalam cinta” dan aku berharap cinta ini seperti yang dikatakan Gie. Keesokan harinya aku berjumpa kembali dengannya, namun statusku hari ini tak lagi jomblo, I’m yours baby..menjadi bahagia adalah saat menjadi perempuan yang paling diperhatikan diantara perempuan-perempuan lain, tanpa kau harus memintanya.
Bahagia ini pun berlanjut pada sebuah malam, diantara rintik hujan kita berbincang dalam satu meja. Dinginnya hujan tak sedikitpun menembus kulit ini, karna yang kurasa hanya sebuah kehangatan. Hinggaa perjalanan pulang hujan semakin deras dan aku sama sekali tak merasakan dingin.
Sampai disitu kebahagiaan dimulai dan di akhiri, tiga kali diantara hujan dan setelah itu aku hanya menjumpai air mata. Ia tak seperti hari-hari itu, dan ketika aku bertanya tentangnya yang berubah, ia tak mengiyakannya. “aku masih sama” begitulah ia bertutur ketika aku mengutarakan perubahan pada dirinya. Aku memutuskan untuk tidak menghubunginya sekitar 3 hari. Hingga pada malam itu ada BBM masuk satu layar lebih, dan itu darinya. Ia mengutarakan permintaan maafnya karena telah memulai ketidak nyamanan ini.
Selang beberapa hari aku harus memastikan rasa dan hubungan ini, bagaimanapun aku adalah seorang perempuan, yang tak ingin statusnya di gantung. Berstatus pacaran tapi seperti jmblo. Pagi itu kuberanikan untuk mempertanyakan semuanya. Tentang rasa untukku apakah telah hilang semuanya? Dan pada pagi itu pula diantara air mata kita mengakhiri semuanya. Ia memintaku untuk memutuskannya, tapi aku tak mau melanggar prinsipku, bahwa dalam hidupku dalam kisah cintaku aku tak mau memutuskan seseorang. Aku katakan padanya, seorang bijak berani meminta dan juga mengakhiri. Dan hari itu, satu minggu lebih dua hari kita mengakhiri segalanya.
Sekuat apapun aku, hatiku adalah hati perempuan yang pasti akan merasakan sakit hati dan akan meneteskan air mata ketika diseperti itukan. Detik itu, aku mencoba mengeja dari sisi positif namun berkali-kali aku jatuh dan gagal. Hanya ada sakit hati dan kebencian, dan aku menikmati sakit hati dan air mata ini sekitar satu jam. Pasca itu, aku langsung menata hidup menata langkah menata hati. Tak ada gunanya sakit hati ini, jika sampai titik kemarin aku bisa hidup tanpa adanya makhluk yang namanya “pacar” kenapa hari ini aku harus tak bisa? Sakit hati pasti ada, tapi aku tak pernah diajarkan untuk membenci ataupun tidak memaafkan seseorang yang membuat kesalahan. Tuhan saja pemaaf, masak aku yang hanya makhluk lemah ini tak memberikan maaf.

Tapi rasa apapun itu yang aku alami, aku akan tetap berterimakasih padamu, seseorang yang pernah menjadikanku perempaun yang spesial diantara perempuan-perempuan lainnya. Hingga pada akhir kisah kita aku belajar tentang tanggung jawab dan komitmen terhadap apa yang kita sayangi terhadap apa yang kita miliki.

Karena Ngaliyan Aku Bertahan

Aku tak pernah bermimpi soal Ngaliyan. Sebuah kecamatan yang berada di kota semarang. Mungkin jarang orang yang tahu tentang Ngaliyan, karena tak ada sesuatu yang istimewa di sana. Ngaliyan bukanlah apa-apa, tapi Naliyan sangat bermakna. Berawal dari kehidupanku dan kesendirianku, disana aku menemukan banyak saudara. Ya, saudara.. memang kita tidak dilahirkan dari rahim biologis yang sama, tapi kita lahir dari rahim ideologis yang sama di sebuah tempat yang bernama Ngaliyan.
Ngaliyan bukanlah apa-apa tanpa kita, dan kita bukanlah siapa-siapa tanpa Ngaliyan, jadi keberadaan kita semacam menjadi simbiosis mutualisme. Ngaliyan terkenal sebagai sentrumnya gerakan mahasiswa, jika kita berbicara lingkup Semarang. Ngaliyan selalu mendatangkan masa paling banyak jika ada unjuk rasa. Ini bukanlah apa-apa kawan..kita hanya berusaha untuk selalu mengeja lingkungan sekitar kita.
Ada juga yang mengatakan, Ngaliyan tak pernah tidur. Ya..karena kita masih akan melihat kehidupan di angkringan-angkringan dari malam-tengah malam-hingga fajar. Di tempat-tempat itulah kami membangun keluarga, terkadang dengan obrolan serius seperti membincang politik, membincang masalah bangsa dan negara serta kehidupan di kampus tercinta. Terkadang juga kita hanya sebatas bercerita, yang sebentar-sebentar akan terdengar kelakar tawa dari kerumunan kita. begitulah Ngaliyan dengan kehidupan malamnya.
Berbicara Ngaliyan, juga berbicara masalah senja. Kita akan mendapati senja yang indah di sudut kampus, dengan posisi tanah yang lebih tinggi dari jalan raya, disana kita menikmati sang jingga yang hendak kembali ke peraduannya. Kami duduk melingkar dengan white bord dan beberapa buku bacaan. Ini kegiatan yang tak pernah ketinggalan dari sudut-sudut ngaliyan, selalu ada forum-forum diskusi tentang masalah apapun. Karena kita tak pernah menabukan masalah apapun untuk di diskusikan, semuanya adalah ilmu begitulah kira-kira prinsip yang kita pegang.
Kita tinggalkan sejenak kehidupan intelektual, kita akan menuju kehidupan sosial. masyarakat Ngaliyan walau sudah terbilang sedikit modern, tapi masih memegang nilai-nilai persaudaraan. Asalkan kita ramah, mereka akan bersikap baik kepada kita. hal ini sudah saya buktikan di sekitar lingkungan kos saya yang itu adalah kompleks perumahan. Dengan keramahan-keramahan itu, bertambahlah keluarga saya di Ngaliyan.
Ketika menginjakkan kaki pertama kali di Ngaliyan, aku masih ingat betul, aku tak kenal siapa-siapa. Namun ketika akan meninggalkan Ngaliyan tanpa sadar aku harus berpamitan pada banyak orang. Dari sana aku sadar aku telah menemukan keluarga-keluarga baru di tempat kecil ini.
Kehidupan intelektual, dan juga sosial tak lengkap jika tanpa kehidupan spiritual. Dalam hingar-bingarnya kota semarang, Ngaliyan punya sisi spiritual yang tinggi. Ketika menjalani hidup dari awal di Ngaliyan aku berpegang pada “dzikir, fikir, amal sholih” bahwa kehidupan tidak boleh lepas dari tiga elemen itu. Jika hanya mengandalkan intelektual saja tanpa spiritual tak akan bisa melahirkan amal sholih. Dari situ saya sadar harus melengkapi aspek spiritual. Dari kebutuhan ini aku mengenal dua pribadi yang sudah seperti orang tua sendiri, aku memanggilnya Abah dan Umik, di tempat beliaulah spiritualku di carge.
Tak hentinya beliau selalu memberi petuah, layaknya kepada anaknya sendiri. Karena tidak dipungkiri kehidupan anak muda adalah kehidupan labil, yang harus selalu di kontrol. Dan sebagai penyeimbang adalah nasehat-nasehat dari Abah setiap malam selasa dan malam kamis.

Begitulah Ngaliyan, ketika aku tinggalkan pada 29 Januari 2015 yang lalu, tepat pada sebuah senja ku akhiri perjalanan panjangku di Ngaliyan, ya...sekitar empat setengah tahun aku di sana, tentunya dengan suka duka. Karena begitulah takdir hidup ini, terkadang ada suka terkadang ada duka, namun itu semua tergantung bagaimana kita memandangnya dengan bijak, bahwasanya hidup harus kita pandang dari berbagai sisi, agar kita tidak menjadi orang-orang yang picik. Terimakasih Ngaliyan, karenamu aku mampu bertahan. 

Nologaten, Aku Rindu “MATO”-mu


Mato adalah sebuah warung kopi yang buka 24 jam. Tak hanya menjual kopi, warung ini juga menjual berbagai macam jajanan dan juga aneka makanan. Tentunya dengan harga yang sangat terjangkau. Pertama kali aku mengunjunginya di hari pertama awal tahun, siang itu aku berada di sana hingga menyongsong senja. Namun hari itu aku belum menikmati kopinya. Barulah keesokan harinya; di hari ke dua awal tahun aku datang lagi ke sana dan merasakan kopinya, di bangku depan dekat pintu aku duduk. Duduk diantara dua cangkir yang penuh dengan kenangan. Aku menikmati suasana disini hingga menjelang senja, karena kawan-kawan yang lain menahanku untuk pulang hari ini, maka kutambah satu hari waktuku di sini.
Sejak saat itu, entah mengapa Mato dan kopinya menjadi sangat istimewa bagiku. Di lain kesempatan aku datangi lagi tempat ini, entah sudah berapa lama aku pun lupa. Yang jelas waktu itu sudah malam, dan hingga menjelang pagi aku baru beranjak dari tempat itu. Kurasakan tiga varian kopi pada malam itu, antara kopasus, kopasus kotok, sukop dan aku sedikit mengerti perbedaannya.
Sampai hari itu rasanya belum tega aku meninggalkan Mato, seperti ada yang tertinggal, seperti aku mencari sesuatu yang hilang di sana malam itu. Kuperhatikan setiap orang yang datang bergerombol, seperti aku mencari seseorang. Sambil sesekali aku bersautan kata dengan teman-teman yang lain, yang mereka sedang asik memainkan permainan khas ala warung kopi.
Malam itu aku tak menemui apa yang ku cari hingga aku meninggalkan tempat itu, aku melihat bangku di dekat pintu depan itu. Seketika diriku tertarik pada hari ke dua awal tahun lalu. dan, aku mengabaikannya walau tak sepenuhnya, disini aku masih seperti mencari seseorang.
Selang sehari, hari ini adalah hari terakhir di kota ini, aku tak mau meninggalkannya tanpa berpamitan dengan Mato. Barang kali aku menemukannya pagi ini, sesuatu yang aku cari. Kawan-kawanku kali ini menghendaki pagi sebagai waktu untuk kita habiskan di Mato. Dan pagi itu bangun tidur, aku langsung cuci muka dan sikat gigi dan kita menuju ke sana hingga setengah siang. Dengan begitu aku dapat meninggalkan kota ini dengan tenang.
Dan hingga saat ini, entah berapa lama aku tak melewati nologaten,
Entah berapa lama aku tak menikmati kopasus/ sukop Mato,
Entah berapa lama aku berusaha mencari lagi sesuatu yang hilang itu,

Dan entah..harus berapa lama lagi kutahan rinduku pada Mato-mu 

Bersama Jateng

Hari itu adalah hari dimana aku mengakhiri 1 periodeku di wilayah Jawa Tengah. Waktu itu bertempat di Jepara, 6-8 Juni 2014 merupakan agenda reorganisasi Forum Silaturahim Mahasiswa (FORSIMA) PAI se Jawa wilayah Jawa Tengah. Dalam periode awal ini aku dipercaya oleh kawan-kawan memegang 1 tahun kepengurusan Jateng. Sebuah amanah yang berat untukku. Karena sebelumnya aku adalah orang yang awam jika berbicara masalah organisasi. Dan sekali ini langsung mengambil porsi Jawa Tengah, sekup yang tidak bisa dikatakan kecil.
Aku terpilih sebagai koordinator wilayah secara aklamasi, waktu itu musyawarah wilayah yang pertama kali dilaksanakan di antara wilayah-wilayah yang lain dalam lingkup Jawa. Muswil pertama di gelar di Semarang, hingga menghasilkan sebuah kepengurusan wilayah jateng pada organisasi Forsima.
Tak mudah aku menjalani satu periodeku. Ini adalah langkah awal, karena memang organisasi ini baru dibentuk. Tak ada panutan dalam aku melangkah. Aku hanya berbekal semangat dari diri sendiri serta semangat dari pengurus yang lain. Tak lupa  juga dorongan motivasi dari para pendiri dan para senior yang turut serta mengiringi langkahku.
Kala itu pertama kali menjabat sebagai korwil aku tak berpikir muluk-muluk tentang organisasi ini. Yang ada dibenakku saat itu bagaimana aku menjaga organisasi ini agar tetap hidup dan dapat membangun soliditas di wilayah Jawa Tengah. Meski hanya demikian tanggung jawab ini tak bisa dianggap remeh. Kendala ruang dan waktu yang ada mengharuskanku agar benar-benar menjaga pola komunikasi yang ada.

Beberapa agenda telah terlaksana, namun ada juga yang tidak terlaksana. Waktu itu separo lebih dari pengurus turut hadir dalam forum tertinggi wilayah tersebut. Sampai detik itu aku merasa terharu pada dulur-dulur yang punya semangat yang luar biasa dalam membangun wilayah Jateng. Maka dengan diterimanya Laporan Pertanggung Jawaban kami purna sudah kepengurusan kami. Dan kini saatnya generasi setelah kami yang harus melanjutkan cita-cita besar FORSIMA. 

Aku Adalah K(opi)

Aku dilahirkan bukan dari seorang pecinta kopi, akupun dulu tak kenal apa itu kopi. Hanya yang kuingat ketika  masih duduk dibangku Taman Kanak-kanak setiap paginya aku selalu meminum satu cawan kopi hitam. Pada saat itu nenekku selalu meminum kopi dipagi hari sehingga ketika bangun tidur aku turut menikmati satu cawannya sebelum berangkat ke sekolah.
Pada waktu itu ngopi belum menjadi tradisi anak muda. Kopi hanya dinikmati oleh para orang tua baik laki-laki ataupun perempuan, itu yang aku ingat. Kebiasaan diminumi kopi itupun tak lantas menjadi candu bagiku. Ketika nenekku berhenti ngopi aku pun tak pernah melanjutkan kebiasaan itu.
Hingga aku duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Namun beda halnya ketika aku hidup ditanah rantau ketika menginjak pendidikan Sekolah Menengah Atas. Di hidupku masa ini aku mulai tertarik dengan kopi, namun masih sebatas kopi instan. Padahal aku hidup disebuah kota yang sangat terkenal dengan kopi leletnya. Aku tau kebiasaan ngopi disini sudah dilakoni para anak muda. Ada sebuah warung kopi terkenal yang wajib dikunjungi ketika kita singgah di kota kecil ini. Pak John, begitulah kawan-kawanku menyebutnya. Mereka para kaum adam hampir semuanya tahu kopi pak John.
Namun sekali lagi di kota ini budaya ngopi adalah budayanya kaum adam. Saya sebagai kaum hawa hanya bisa menikmati kopi instan yang setiap saat bisa kuseduh di tanah rantau ini, tanahnya para pecinta kopi. Lambat laun, aku tak berani lagi menyeduh kopi walau itu adalah kopi instan karena ada masalah pada lambungku jika terkena caffein dari kopi.  Namun keberpalinganku tak berlangsung lama, aku mulai tak menghiraukan setiap kali sakit yang kurasa dari secangkir kopi, dan lama-lama aku kebal akan hal itu.
Beranjak dari kota kopi aku menuju tanah rantau yang lain, yang lebih jauh dari tanah rantau pertama. Disini aku berkawan dengan orang-orang kelelawar, yah mereka yang sukanya melek dimalam hari dan tidur dipagi  hari. Ketika malam mereka selalu ditemani secangkir kopi hitam, dan bahkan terkadang pahit. Karena bagi mereka laki-laki kopinya harus hitam, kalau tidak itu namanya banci. Diperantauan ini saya hanya menjumpai dua kopi, yaitu kopi hitam dan kopi instan yang aku belum bisa memahami cara menikmatinya, aku hanya sebatas ikut-ikutan kebiasaan kawan-kawan saat kita kumpul nongkrong.
Selang waktu berjalan aku berkawan dengan orang-orang lintas daerah, ada sebuah daerah yang peradaban ngopinya sangat tinggi. Di kota itulah aku mulai tertarik dengan kopi lagi. Aku diperkenalkan kopi dari macam-macam daerah, aku diajari cara meracik kopi hingga itu bisa jadi sebuah kopi yang diberi nama kopasus, sukop, kopasus kotok, kotok manis, kopaja dan banyak lagi lainnya. Dari sini aku belajar bagaimana pentingnya menjaga rasa kopi itu sendiri walau sudah dicampur gula, susu ataupun jahe. Mereka mengajariku bahwa cara peracikan yang berbeda akan menghasilkan rasa kopi yang berbeda.
Dari ini aku menjadi penikmat kopi, ya..sekali lagi penikmat belum pecinta kopi. Kopi ibarat sesuatu yang selalu disediakan Tuhan bagiku. Bagaimana tidak, setiap belum habis kopiku pasti ada yang memberiku kopi. Dari kopi kediri, salatiga, malang dan gersik hingga kopi-kopi lokal jika aku singgah di sebuah daerah.
Setelah dari kota kedua aku melanjutkan perantauan lagi ke kota ketiga. Disini peradaban ngopi sudah sangat tinggi. Banyak anak muda yang berkumpul untuk belajar di kota yang ketiga ini. Dan kesemuanya itu ditunjang dengan banayaknya pula warung kopi. Ada yang buka 24 jam, ada juga yang buka malam hingga dini hari. Yang sama dari semuanya adalah tempat-tempat itu takpernah sepi dari para pemuda. Warung kopi adalah arena yang sangat nyaman untuk berdiskusi, berdialektika, serta bertukar pikiran antara beberapa orang.
Namun, dari semua ini tak banyak orang yang setuju dengan apa yang saya ungkapkan. Beberapa orang masih memandang negatif warung kopi, terutama jika seorang perempuan turut menikmati kopi ditempat tersebut. Wajar saja jika demikian, kita tak bisa menyeragamkan pandangan orang-orang. Karena masing-masing dari mereka berhak dalam subjektivitasnya masing-masing.
Dari sekian perjalanan yang saya alami bersama kopi, kini kopi menjadi sesuatu yang tak bisa terpisahkan dari hidupku. Bukan hanya kopi, ampas kopi pun turut menjadi mainan tersendiri bagiku, ketika waktu luang aku menghabiskan waktuku memadukan ampas kopi pada media kertas, apapun itu bagai manapun hasilnya aku menyebutnya coffe art. Jika merasa pusing, atau tak enak badan obatku hanya satu yaitu kopi. Entah mengapa aku masih belum menemukan jawabannya, hanya saja aku merasa dunia akan selalu baik-baik saja jika kita bersama secangkir kopi. Secangkir kopi yang tak bisa aku definisikan kenikmatannya.

(K)opi Senja

Batu, 27-2-2015

Kopi, Senja dan Pelangi


Kopi, adalah sosok bijaksana berkarisma dan punya jiwa leadership yang kuat. Sementara senja adalah sosok apa adanya. Dia bisa dalam segala hal dalam porsinya, artinya ia tak punya keunggulan dalam satu bidangpun, namun ia selalu bisa untuk menjadi apa yang dituntutkan kepadanya. Sedangkan pelangi ia adalah sosok yang cekatan, lemah lembut, dan juga misterius, (menurut si kopi). Cerita ini mengisahkan antara karakter-karakter yang berkamuflase dalam tokoh kopi, senja dan pelangi.
Berawal dari pertemuan cangkir kopi pada suatu senja, itu adalah senja yang sangat indah dimana langit berwarna keemasan dan menunjukkan keanggunannya. Terjadi dialog cukup panjang antara kopi dan senja. Mulai dari berbincang tentang hal pribadi, sengkarut negara kecil, hingga sengkarut negara besar. Karena memang pada saat itu kopi dan senja sedang dalam keadaan memegang pucuk pimpinan sebuah negara kecil. Dalam waktu ini kawan kopi dan kawan senja meminta kepada kopi dan senja agar mereka berkoalisi, entah misi apa yang kawan kopi dan senja bawa sehingga harus mempersatukan kutub barat dan timur negara kecil, mungkin mereka bosan dengan drama yang dipertontonkan elit politik negara besar.
Kopi dan senja tak pernah menghiraukan ocehan kawan-kawan, mereka terus berdialog tentang apa saja. Dari situ senja kagum terhadap kopi, pemikirannya yang visioner dan bijaksana layak membawa dirinya menjadi presiden negara kecil. Dengan pulang membawa rasa kagumnya senjapun meninggalkan kopi menuju kutub asalnya, negara timur. Sementara kopi pemilik kutub negara barat menjalani kehidupannya sebagaimna biasanya, namun sekali lagi tak ada yang bisa mengklarifikasi apa yang dirasakan dan dialami kopi setelah bertemu senja.
Kopi dan senja adalah padanan yang cocok yang Tuhan ciptakan diantara milyaran ciptaan-Nya. Namun apa daya, senja tetaplah senja ia adalah sesuatu yang akan muncul ketika waktunya tiba walau kadang senja tak seindah yang orang inginkan, menampakkan sinar keemasan dan semburat jingga diufuk barat, namun senja akan selalu ada dengan apa adanya. Jika kita beruntung kita dapat menjumpai senja yang indah, namun jika tidak kita juga akan tetap menyebut itu adalah waktu senja walau tanpa semburat jingga.
Pelangi juga merupakan sosok yang hebat, layaknya kopi dan senja. Ia merupakan bagian penting disebuah negara kecil yang lain. Menurut kopi pelangi adalah sosok yang cerdas dan misterius. Yang sangat lebih baik dan lebih indah jika dibandingkan dengan senja. Lalu kopipun merapat pada pelangi, membangun sebuah visi bersama yang tak pernah diketahui oleh siapapun, bahkan oleh senja sekalipun.
Senja tak seperti pelangi, yang ia jauh lebih indah dan lebih kaya warna dari pada hanya sekedar semburat jingga. Pelangi punya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu tak seperti senja yang hanya punya jingganya. Senjapun tak pernah tau bagaimana sebenarnya pelangi itu, ia hanya tahu pelangi dari hasil bacanya terhadap tulisan kopi yang ia sendiri tidak tau seberapa besar subjektivitas kopi dalam mendefinisikan pelangi. Yang senja tahu pelangi adalah sosok sempurna yang sangat diharapkan kopi, dan senja sangat jauh jika dibandingkan dengan pelangi.
Senja hanya bisa terdiam menikmati keindahan kopi pelangi yang baginya harus terpaksa berucap indah, padahal tidak demikian rasanya. Senja selalu ingat apa yang disampaikan kopi kala senja pertama mereka dipertemukan. Namun sepertinya antara kopi dan senja memiliki jalannya masing-maasing hingga membuat kopi bermuara pada pelangi dan tak bertemu senja, kecuali jika takdir berkata lain.
Tak peduli dengan keindahan yang ala kadarnya senja tetaplah senja dengan satu warna jingganya, yang ia selalu ada tiap harinya walau kadang kita tak beruntung menyaksikan indahnya. Tapi ia tetap ada tiap harinya, tak seperti pelangi yang hanya muncul dalam waktu tertentu. Ahh..apalah itu baik senja atau pelangi selagi ada kopi akan ada negeri yang bersuka cita bukan berduka cita.

By: (k)Opi Senja
Batu, 26-2-2015

          

Perjalanan Libur Lebaran




Lebaran kali ini masih tanggal 1 Syawal,, penetapan ini disetujui oleh semua ormas dan semua umat Islam diseluruh dunia tanpa perdebatan sedikitpun :D
ini hasil dari penetapan Hari Raya Idul Fitri yang tanpa ada perdebatan (semua pihak setuju hari raya tanggal 1 Syawal ^_^)
dibarengi dengan keluyuran di rumah para tetangga, dengan pasukan tersebut. selanjutnya hari kedua dilanjutkan dengan mudik ke kampung halaman, sampai hari ketiga. ekitar 30 menit di hari ke tiga kusempatkan mampir di rumah. dan tepat pukul 17.00 kita cap cuz menuju kota pahlawan. lokasi pertama yang dikunjungi, warung makan kaki lima (kalo laper apa aja mah enak).

jalan-jalan pertama ke food festival, ini hasilnya:
setelah bercapek-capek ria, dan berkenyang-kenyang ria. langsung cap cuz istirahat dan paginya kita masih punya agenda. go to Prigen Pasuruan, jalan-jalan ke Taman Safari Indonesia 2: